Generasi Muda Jaman Now Wajib Mengerti Isu-Isu Kependudukan

By Admin

nusakini.com--Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga pasal 17 mengamanatkan bahwa pengembangan wawasan kependudukan merupakan upaya peningkatan pemahaman mengenai pembangunan kependudukan yang berkelanjutan untuk mewujudkan penduduk yang berkualitas. Salah satu pendekatan yang dianggap paling efektif untuk membentuk pola pikir, sikap dan perilaku dilakukan adalah melalui pendekatan pendidikan.

  Pendidikan kependudukan adalah upaya terencana dan sistematis untuk membantu masyarakat agar memiliki pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tentang kondisi kependudukan serta keterkaitan timbal balik antara perkembangan kependudukan yaitu kelahiran, kematian, perpindahan serta kualitas penduduk dengan kehidupan sosial, ekonomi, kemasyarakatan dan lingkungan hidup sehingga mereka memiliki perilaku yang bertanggung jawab dan ikut peduli dengan kualitas hidup generasi sekarang dan mendatang, jelas Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan Ahmad Taufik pada Pembukaan Lomba Pidato dan Karya Tulis di Salak Tower Hotel, Bogor.   

 Permasalahan kependudukan yang dihadapi indonesia meliputi aspek kuantitas, kualitas, persebaran dan data kependudukan. Dalam aspek kuantitas, penduduk Indonesia masih besar jumlahnya sekitar 237,6 juta jiwa dan merupakan penduduk terbesar keempat dunia dengan pertumbuhan sekitar 1,49 % pertahun (BPS 2010). Dari aspek kualitas, Indonesia masih memiliki 13,33 % penduduk miskin (BPS 2010) dengan tingkat pendidikan, kesehatan dan daya beli penduduk masih rendah. Hal ini menempatkan Indonesia masuk dalam posisi ke-110 dari 188 negara di dunia dalam hal Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2015 (Human Development Report, UNDP 2015). Indonesia juga memiliki masalah persebaran penduduk yang tidak merata karena 58 % diantaranya tinggal di Pulau Jawa yang luasnya hanya 7 % sehingga setiap km2 lahan dihuni oleh 1055 orang (BPS, 2010).  

  Selain itu, data, informasi dan administrasi kependudukan di Indonesia juga masih banyak masalah yang perlu dibenahi serta pencatatan/registrasi penduduk yang berkenaan dengan kelahiran, kematian, kedatangan dan kepergian belum bisa dilakukan dengan tertib, disiplin dan cermat sesuai ketentuan. Pemahaman terhadap isu dan permasalahan kependudukan tidak saja diperlukan oleh pengambil kebijakan namun juga perlu diberikan kepada individu, keluarga dan masyarakat khususnya generasi muda, imbuh Taufik. Salah satu cara penyebarluasan isu-isu kependudukan dapat dilakukan melalui edukasi dengan pendekatan yang menitikberatkan pada aktifitas-aktifitas seni serta media yang sedang diminati di kalangan remaja.  

  Tingginya aktifitas penulis-penulis muda yang menjadikan sebuah karya tulis sebagai sarana dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran mereka, merupakan salah satu celah yang dapat kita arahkan untuk menyuarakan isu-isu kependudukan. Oleh karena itu lomba karya tulis bertemakan kependudukan dianggap salah satu strategi yang efektif untuk menjangkau berbagai kalangan, ujar Taufik. Selain melalui media sosial dan seni, dalam rangka menyasar usia remaja, maka dibutuhkan seorang figur yang dekat di kalangan remaja. Dalam hal ini, dibutuhkan profil-profil remaja yang fasih dalam memahami isu kependudukan sehingga mudah diterima dikalangan sebayanya. Oleh karena itu lomba pidato diharapkan dapat menciptakan orator-orator muda yang kompeten di bidang kependudukan.  

Dengan demikian berbagai lomba bertemakan kependudukan yang diselenggarakan dapat menciptakan generasi muda yang memiliki cara pandang yang rasional dan bertanggung jawab terhadap isu-isu kependudukan di Indonesia, terutama yang terkait dengan pengaruh pertambahan penduduk terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian alam.

  Selain itu, Taufik menjelaskan kegiatan ini bertujuan : (1) Meningkatnya pengetahuan, pemahaman dan kesadaran remaja dan generasi muda terhadap kondisi kependudukan Indonesia, (2) Diperolehnya pemahaman remaja sebagai generasi muda tentang isu-isu kependudukan, (3) Menumbuhkan sikap dan perilaku yang rasional dan bertanggung jawab terhadap masalah kependudukan, (4) Menumbuhkan antusiasme budaya menulis mengenai kependudukan menjadi sebuah karya tulis kependudukan yang dapat mudah dipahami dan diminati khususnya oleh remaja sebagai generasi penerus bangsa, (5) Meningkatnya jumlah remaja yang kompeten sebagai orator yang menyuarakan masalah kependudukan, tutup Taufik.(rilis/rajendra)